Notif.news - Penemuan uang palsu di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar pada akhir tahun 2024 sempat menghebohkan masyarakat Sulawesi Selatan. Kasus tersebut memicu tren baru di kalangan masyarakat, yaitu praktik “membelah uang” untuk memverifikasi keaslian uang yang beredar, sebagai upaya untuk membuktikan apakah uang Rupiah yang mereka terima asli atau palsu.
Terkait dengan hal ini, Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Marlison Hakim, memberikan klarifikasi melalui keterangan resmi yang disampaikan pada Jumat (3/1/2025). Marlison menjelaskan bahwa tren penemuan uang palsu di Sulawesi Selatan secara keseluruhan menunjukkan penurunan yang signifikan berdasarkan data yang ada. Hal ini terkait dengan meningkatnya kualitas uang Rupiah yang beredar, baik dari segi bahan, teknologi cetak, maupun unsur pengaman yang semakin modern.
“Sepanjang tahun 2024, rasio uang palsu yang ditemukan di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 4 ppm (pieces per million) atau setara dengan 4 lembar uang palsu untuk setiap 1 juta lembar uang yang beredar. Angka ini terus menurun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023 tercatat 5 ppm, 2022 tercatat 5 ppm, dan pada 2021 tercatat 7 ppm. Pada 2020, rasio uang palsu tercatat 9 ppm,” jelas Marlison.
Menurut Marlison, penurunan angka temuan uang palsu tersebut mencerminkan keberhasilan Bank Indonesia dan seluruh pihak terkait dalam melakukan upaya edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengenali ciri-ciri uang Rupiah yang asli. Bank Indonesia terus menggalakkan edukasi tentang ciri keaslian uang secara masif dan bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum dan institusi lain yang tergabung dalam Botasupal (Badan Koordinasi Pengawasan Uang Palsu).
“Uang palsu tidak memiliki nilai transaksi dan tidak dapat dipergunakan sebagai alat tukar yang sah. Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk terus berhati-hati dan mengenali ciri-ciri keaslian uang yang beredar,” tambahnya.
Terkait temuan uang palsu di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Marlison menjelaskan bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap barang bukti menunjukkan bahwa uang palsu tersebut memiliki kualitas yang sangat rendah. Penelitian dilakukan berdasarkan sampel uang palsu yang ditemukan dan diuji oleh Bank Indonesia.
“Dari penelitian atas sampel barang bukti yang ditemukan, dapat dengan mudah diidentifikasi dengan kasat mata menggunakan metode 3D (dilihat, diraba, diterawang). Uang palsu tersebut dicetak dengan menggunakan teknik cetak inkjet printer dan sablon biasa, yang membuatnya sangat mudah terdeteksi dibandingkan dengan uang Rupiah yang asli,” ungkap Marlison.
Marlison juga menambahkan bahwa teknik pencetakan uang palsu yang ditemukan di Gowa tidak menggunakan teknik pencetakan offset seperti yang biasa digunakan untuk mencetak uang Rupiah yang asli. Hal ini mengindikasikan bahwa uang tersebut diproduksi dengan peralatan cetak yang tidak sesuai standar pencetakan uang negara.
“Mesin cetak yang ditemukan oleh pihak kepolisian juga merupakan mesin percetakan umum biasa, bukan mesin khusus yang digunakan untuk mencetak uang. Ini menunjukkan bahwa upaya pemalsuan uang tersebut dilakukan dengan teknik yang sangat sederhana dan tidak menggunakan peralatan yang sesuai dengan standar pencetakan uang negara,” lanjut Marlison.
Lebih lanjut, Marlison menjelaskan bahwa tidak ada unsur pengaman yang berhasil dipalsukan pada uang palsu tersebut. Beberapa unsur pengaman yang terdapat pada uang Rupiah asli, seperti benang pengaman, watermark, electrotype, dan gambar UV, tidak ada pada uang palsu yang ditemukan. Sebaliknya, uang palsu tersebut hanya dicetak menggunakan sablon biasa pada kertas yang juga bukan kertas khusus uang Rupiah.
“Uang palsu tersebut hanya memiliki pendaran biasa ketika diterawang di bawah sinar lampu UV, dengan kualitas pendaran yang sangat rendah. Pendaran yang dihasilkan berbeda jauh dari segi lokasi, warna, dan bentuk jika dibandingkan dengan uang Rupiah asli,” jelas Marlison.
Dengan temuan ini, Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan. Meskipun uang palsu masih ditemukan, kualitasnya semakin menurun dan mudah diidentifikasi. Masyarakat diminta untuk selalu berhati-hati dalam bertransaksi dan tetap mengedepankan cara-cara sederhana dalam mengenali uang asli menggunakan metode 3D yang dapat diakses di situs resmi Bank Indonesia.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk terus berhati-hati dalam melakukan transaksi, namun tidak perlu khawatir. Untuk mengenali uang Rupiah yang asli, dapat menggunakan cara 3D, yaitu dilihat, diraba, dan diterawang. Cara-cara ini dapat diakses melalui website resmi Bank Indonesia,” tutup Marlison.
Bank Indonesia berharap dengan adanya edukasi yang terus digalakkan, masyarakat dapat semakin cerdas dalam mengenali uang Rupiah yang asli dan tidak mudah tertipu dengan uang palsu. Ke depan, Bank Indonesia juga akan terus melakukan pengawasan dan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kelancaran transaksi keuangan dan menjaga stabilitas ekonomi negara. (*)
