EKONOMI

Masuk Jajaran Dewan Energi Nasional, Mentan Amran Targetkan Stop Impor Solar Lewat B50

JAKARTA, Notif.News – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Rabu (28/1/2026). Momentum ini mempertegas peran sektor pertanian sebagai pilar utama transisi energi hijau nasional melalui optimalisasi sumber daya lokal yang melimpah.

Usai pelantikan di Istana Negara, Mentan Amran menegaskan komitmennya untuk mengonversi potensi agraris menjadi kemandirian energi. Fokus utama pemerintah adalah memperkuat pengembangan biofuel berbasis komoditas unggulan seperti kelapa sawit, tebu, hingga ubi kayu (singkong) sebagai sumber energi masa depan.

"Potensi kita sangat besar. Jika sawit dan tebu sudah berjalan, ke depan kita akan dorong singkong sebagai sumber energi alternatif baru. Indonesia punya kekuatan besar untuk menjadi pemain utama energi terbarukan," ujar Amran optimis.

Salah satu terobosan strategis yang diusung adalah penguatan kebijakan mandatori biodiesel B50. Program ini ditargetkan mampu memutus ketergantungan pada energi fosil dari luar negeri. Amran meyakini, melalui implementasi B50, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor solar mulai tahun ini.

Langkah ini dipandang bukan hanya sebagai solusi kedaulatan energi, tetapi juga motor penggerak ekonomi petani. Dengan memperluas budi daya tanaman penghasil biofuel yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, nilai tambah ekonomi masyarakat perdesaan diharapkan meningkat drastis.

Kementerian Pertanian kini fokus pada program hilirisasi komoditas energi untuk memastikan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan. Sinergi antara sektor pertanian dan energi di bawah naungan DEN diharapkan mampu mempercepat terciptanya pembangunan hijau yang tangguh.

Masuknya Mentan dalam struktur DEN menjadi sinyal kuat bahwa ketahanan pangan dan ketahanan energi kini berjalan beriringan. Pemerintah bertekad menjadikan sektor pertanian sebagai penopang utama transisi energi nasional yang bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing global. (*)