EKONOMI

Mentan Amran Rangkul Purnabakti, Jadikan Pengalaman Senior Fondasi Swasembada Pangan

JAKARTA, Notif.News – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa purnabakti Kementerian Pertanian (Kementan) adalah aset strategis bangsa yang tak tergantikan. Pengalaman puluhan tahun para senior dinilai sebagai modal utama dalam mengawal transformasi pertanian nasional dari hulu hingga hilir melalui kebijakan yang kuat dan tepat sasaran.

Dalam pertemuan silaturahmi bersama para mantan menteri serta pejabat eselon di Kalibata, Jumat (23/1/2026), Amran menyatakan bahwa ilmu para purnabakti tidak dapat diperjualbelikan. Keahlian mereka sangat dibutuhkan negara untuk membenahi regulasi serta memperkuat aspek manajerial dalam menghadapi tantangan pangan global yang kian kompleks.

Mentan menekankan pentingnya keterlibatan purnabakti dalam memberikan masukan strategis serta pendampingan teknis. Sinergi ini bertujuan membangun budaya kerja berkesinambungan, di mana generasi penerus tetap berpijak pada fondasi kuat yang telah dibangun oleh para pendahulu selama berdekade-dekade.

Selain penguatan pangan pokok, Amran memaparkan bahwa tahun ini Kementan fokus memacu sektor perkebunan, peternakan, hingga hilirisasi. Komoditas unggulan seperti kelapa, kopi, kakao, dan tebu menjadi prioritas utama guna memanfaatkan peluang pasar global sekaligus meningkatkan nilai tambah ekspor nasional.

Apresiasi datang dari Menteri Pertanian periode 1998–2003, Justika Baharsjah. Ia menilai forum ini sangat strategis bagi para purnabakti untuk memahami posisi dan arah pembangunan pertanian ke depan. Menurutnya, kepemimpinan Mentan Amran telah membawa kemajuan signifikan yang diakui secara internasional.

"Pertemuan ini sangat baik agar kita tahu apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kondisi pertanian ke depan. Saya mengapresiasi upaya Pak Amran yang terus mendorong kemajuan dan tidak berhenti pada capaian yang ada," ujar Justika terkait visi berkelanjutan kementrian saat ini.

Senada dengan itu, Menteri Pertanian periode 2004–2009, Anton Apriyantono, memuji capaian positif sektor pertanian saat ini. Meski demikian, ia mengingatkan agar fokus kebijakan ke depan harus lebih spesifik, terutama dalam menjaga swasembada beras agar target yang ditetapkan tetap terukur.

Anton menekankan pentingnya strategi kesinambungan jangka panjang, terutama dalam mengantisipasi perubahan iklim yang dinamis. Ia mengimbau agar keberhasilan produksi yang dicapai hari ini tidak bersifat sementara, melainkan harus dijaga agar tetap stabil meskipun menghadapi masa-masa sulit di masa depan.

"Kita harus belajar tentang manajemen masa subur dan masa paceklik. Ini penting agar keberhasilan swasembada hari ini tetap terjaga kesinambungannya di masa depan," tegas Anton mengingatkan pentingnya antisipasi dini terhadap dinamika alam dan perubahan cuaca.

Kementan berkomitmen menjadikan masukan dari para tokoh senior ini sebagai kompas dalam mengeksekusi program kerja. Kehadiran para purnabakti diharapkan mampu meminimalisir kesalahan kebijakan serta mempercepat akselerasi pencapaian swasembada pangan berkelanjutan yang menjadi instruksi Presiden.

Pertemuan lintas periode ini mencerminkan soliditas internal Kementan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Sinergi antara kebijakan modern dan pengalaman lapangan para senior diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen pangan utama dunia yang tangguh.

Amran berharap forum komunikasi seperti ini terus berlanjut secara berkala. Hal ini dipandang perlu untuk menjaga ritme pembangunan pertanian agar tetap selaras dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi, tanpa meninggalkan kearifan dari praktik terbaik masa lalu.

Dengan dukungan para pakar dan praktisi senior, Kementan optimistis mampu menjawab keraguan publik terkait kedaulatan pangan. Fokus pada hilirisasi juga diprediksi akan membuka lapangan kerja baru serta memperkuat struktur ekonomi di wilayah pedesaan sebagai basis produksi.

Kekuatan manajerial yang berpadu dengan keberanian membenahi regulasi menjadi nilai tawar kepemimpinan Amran saat ini. Para purnabakti sepakat bahwa konsistensi adalah kunci agar Indonesia tidak hanya swasembada secara angka, tetapi juga mandiri secara kedaulatan pangan di lapangan.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi diskusi hangat yang memperlihatkan keharmonisan antara lintas generasi pejuang pertanian. Momentum ini menjadi titik tolak penguatan sinergi strategis demi mewujudkan masa depan pertanian Indonesia yang lebih mandiri, berdaya saing, dan sejahtera.

Persoalan pangan adalah persoalan hidup mati sebuah bangsa, dan sinergi lintas masa ini menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Melalui bimbingan purnabakti, Kementan melangkah lebih pasti dalam mengawal kedaulatan pangan untuk seluruh rakyat Indonesia di masa yang akan datang. (*)