MAKASSAR, NOTIF.NEWS – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar dari Fraksi Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Muhammad Farid Rayendra, intensif menyerap aspirasi masyarakat dalam rangkaian kegiatan Reses Masa Sidang Ketiga Tahun Sidang 2024/2025. Total enam titik lokasi disambangi Farid Rayendra selama dua hari pelaksanaan reses, yang menunjukkan komitmennya dalam menjaring langsung persoalan dan kebutuhan konstituen di daerah pemilihannya.
Agenda reses dimulai pada Sabtu, 21 Juni 2025, dengan tiga titik kunjungan di wilayah Kecamatan Mamajang dan Mariso. Kemudian dilanjutkan pada Senin, 23 Juni 2025, dengan menyisir tiga titik lainnya di Kecamatan Tamalate. Mobilitas tinggi ini memungkinkan Farid Rayendra untuk berdialog dengan beragam lapisan masyarakat, memahami secara langsung dinamika serta tantangan yang mereka hadapi.
Hari Pertama Reses: Fokus pada Infrastruktur dan Lingkungan
Pada Sabtu, 21 Juni 2025, Muhammad Farid Rayendra memulai resesnya di titik pertama, bertempat di Jl. Tanjung Bunga, Kelurahan Sambung Jawa, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, pukul 10.00 WITA. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya aspirasi yang disampaikan.

Ahmad Sumo menjadi salah satu warga yang pertama menyampaikan keluhannya. Ia meminta perbaikan dan pengerukan drainase Tanjung Pattiro. Kondisi drainase yang buruk sering kali menjadi penyebab genangan air, bahkan banjir, saat intensitas hujan tinggi. Aspirasi ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan penataan sistem drainase yang lebih baik.
Kemudian, Junaedi Jabar mengemukakan beberapa poin penting. Ia menginginkan adanya edukasi masyarakat tentang kebersihan, mengingat kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Junaedi juga meminta perbaikan jalan di Jl. Tanjung Raya 1, serta penyediaan wadah bermain anak-anak dan pembinaan untuk para anak muda, menunjukkan perhatian pada aspek sosial dan pengembangan generasi muda.

Sofyan menutup sesi di titik pertama dengan aspirasinya yang menginginkan pengawasan ketat dari DPRD Makassar dalam realisasi perbaikan jalan dan perbaikan tata ruang kompleks. Ia menekankan pentingnya akuntabilitas dan kualitas dalam setiap proyek pembangunan yang dilakukan pemerintah kota.
Melangkah ke titik kedua pada hari yang sama, Farid Rayendra tiba di Jl. Hati Murni, Kelurahan Tamarunang, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, pukul 13.00 WITA. Isu banjir dan pengerukan drainase/kanal di Jl. Hati Murni menjadi keluhan utama yang disampaikan oleh Irawan. Kondisi ini sudah menjadi langganan warga setiap musim hujan, mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kerugian materiil.

Warga juga mempertanyakan tentang penyelesaian masalah jembatan kanal di Jl. Hati Murni. Jembatan yang seharusnya menjadi fasilitas umum ini disinyalir telah dijadikan lahan bangunan warga dan properti pribadi, kemudian disewakan ke beberapa orang. Ini menimbulkan keresahan karena mengganggu fungsi asli jembatan dan berpotensi melanggar tata ruang kota.
Aspirasi lain datang dari Ima, yang meminta perbaikan kualitas jalan paving blok di wilayahnya. Kondisi jalan yang rusak parah tentu menghambat mobilitas warga dan berpotensi menyebabkan kecelakaan.
Titik ketiga pada Sabtu sore dilaksanakan di Jl. Rajawali Lr. 13, Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, pukul 15.00 WITA. Di lokasi ini, antusiasme warga dalam menyampaikan aspirasi juga sangat tinggi.
Syamsul meminta penambahan perbaikan jalan paving blok sepanjang 30 meter. Permintaan spesifik ini menunjukkan urgensi perbaikan infrastruktur di lorong-lorong sempit yang sering kali luput dari perhatian.

Daeng Tombong mengeluhkan tentang pengerukan kanal di wilayah Rusunawa Lette yang selalu mengakibatkan banjir. Meskipun sudah ada rusunawa, masalah banjir tetap menjadi momok bagi penghuni dan warga sekitar.
Isu persampahan kembali mengemuka melalui keluhan Taufik tentang terjadinya penimbunan sampah berhari-hari akibat kekurangan armada dan tenaga kebersihan di lorong 10 Lette. Penumpukan sampah tidak hanya menimbulkan bau tak sedap, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penyakit.

Terakhir, H. Aseng menyampaikan aspirasi singkat mengenai pengerukan selokan. Permintaan ini sejalan dengan keluhan banjir dan drainase buruk di titik-titik sebelumnya, menegaskan pentingnya pemeliharaan rutin saluran air.
Hari Kedua Reses: Pendidikan, Kesehatan, hingga Penataan Kota
Pada Senin, 23 Juni 2025, Muhammad Farid Rayendra melanjutkan agenda reses di wilayah Kecamatan Tamalate, memulai dengan titik keempat di Jl. Deppasawi Luar RT 92/RW 05, Kelurahan Maccini Sombala, Kota Makassar, pukul 10.00 WITA.
Lince menjadi salah satu warga yang mengeluhkan perbaikan jalan di Jl. Deppasawi. Kondisi jalan yang tidak mulus tentu menghambat kenyamanan dan keamanan berkendara warga.

H. Toa menyampaikan aspirasi mengenai penambahan tempat sampah di RW 05. Ketersediaan tempat sampah yang memadai sangat krusial untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mendorong kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya.
Muchtar menyoroti pentingnya pengerukan drainase di RT 02/RW 05. Kondisi drainase yang tersumbat dapat memicu genangan air dan menjadi sarang nyamuk, mengancam kesehatan masyarakat.
Aspirasi yang berbeda datang dari Suci Ekawati, yang meminta sosialisasi penerapan aturan Perda Kota Makassar No. 4 Tahun 2014 tentang dampak dan bahaya minuman beralkohol. Permintaan ini menunjukkan kepedulian warga terhadap dampak negatif alkohol dan penegakan regulasi di masyarakat.
Selanjutnya, Marlina menyampaikan aspirasinya terkait bantuan pendidikan dan akses kesehatan masyarakat, termasuk Kartu Indonesia Sehat (KIS). Isu pendidikan dan kesehatan merupakan hak dasar yang harus dipenuhi pemerintah.
Di titik kelima, Farid Rayendra berada di Jl. Gontang Barat RT 03/RW 02, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, pada pukul 13.00 WITA.
Marlina Dg. Baji mewakili aspirasi sektor pertanian dengan meminta bantuan pupuk dan alat pertanian. Di tengah tantangan sektor pertanian, bantuan ini sangat krusial untuk meningkatkan produktivitas petani lokal.

Warga lainnya juga meminta penambahan drainase dan fasilitas lampu jalan, yang merupakan kebutuhan dasar untuk keamanan dan kenyamanan di lingkungan tempat tinggal. Selain itu, akses pendidikan juga kembali menjadi sorotan, menunjukkan bahwa isu ini masih menjadi perhatian serius di berbagai kelurahan.
Rangkaian reses Muhammad Farid Rayendra ditutup di titik keenam, yaitu di Jl. Bonto Bireng, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, pada pukul 15.00 WITA. Berbagai aspirasi krusial mengemuka di lokasi ini.
Lurah Barombong secara langsung mengungkapkan masalah drainase induk dan pembuangan air ke sungai Je'neberang. Kondisi ini sering kali menyebabkan banjir besar, dan Lurah berharap ada solusi komprehensif untuk tata kelola air di wilayah tersebut.
Pak Odi meminta pengerukan sungai di wilayah RT 09 dan RW 06, yang juga berkaitan erat dengan masalah banjir dan drainase. Sedimentasi sungai yang tidak terawat dapat memperparah genangan air.
Warga bernama Isra dalam aspirasinya meminta peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan. Ia juga mendesak pemberian apresiasi/bantuan/beasiswa kepada siswa berprestasi serta beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, untuk mendorong semangat belajar dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Beberapa warga lain secara kolektif meminta perbaikan jalan poros Kota Barombong di Jl. Poros Perjanjian Bungaya. Jalan poros yang baik sangat penting untuk kelancaran transportasi dan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
Warga juga menekankan pentingnya pembangunan perumahan yang harus memperhatikan lingkungan dan drainase agar tidak menyebabkan banjir. Perkembangan pembangunan yang tidak terencana dengan baik seringkali menjadi pemicu masalah lingkungan baru.
Selain itu, warga juga meminta pembangunan gedung baru bagi beberapa bangunan sekolah SD dan SMP yang kondisinya mungkin sudah tidak layak. Mereka juga mempertanyakan tentang banyaknya pungutan bagi siswa sekolah, yang dikhawatirkan memberatkan orang tua dan menghambat akses pendidikan.
Terakhir, warga menginginkan pembangunan jembatan kembar di Barombong untuk menghindari kemacetan. Pertumbuhan jumlah kendaraan membuat infrastruktur jembatan yang ada saat ini tidak lagi memadai, sehingga diperlukan solusi untuk mengurai kemacetan.
Seluruh aspirasi yang telah dicatat selama enam titik reses ini akan menjadi bahan perjuangan Muhammad Farid Rayendra di DPRD Kota Makassar. Ia berkomitmen untuk membawa setiap masukan masyarakat ke dalam pembahasan anggaran dan perumusan kebijakan, demi mewujudkan Kota Makassar yang lebih maju, sejahtera, dan nyaman bagi seluruh warganya. (*)
