JAKARTA, Notif.News – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), memberikan apresiasi tinggi atas terobosan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Pupuk Indonesia. Reformasi tata kelola yang dilakukan berhasil memangkas harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen tanpa menambah beban anggaran negara.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah bersejarah bagi sektor pertanian Indonesia. Menko Zulhas menegaskan bahwa penurunan harga terjadi berkat pembenahan sistem dan regulasi yang membuat penyaluran pupuk jauh lebih efisien, transparan, dan tepat sasaran.
"Ini kabar gembira dan luar biasa. Baru pertama kali dalam sejarah pemerintahan RI, harga pupuk turun signifikan tanpa membebani APBN," ujar Menko Zulhas usai Rakortas Pangan di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Secara konkret, harga pupuk urea kemasan 50 kilogram yang sebelumnya Rp112.500 kini turun menjadi Rp90.000. Penurunan harga ini berlaku serentak untuk seluruh jenis pupuk bersubsidi di seluruh wilayah Indonesia.
Transformasi kebijakan ini juga mengubah skema pengelolaan dari cost plus menjadi market to market. Langkah strategis ini dinilai mampu meningkatkan daya saing industri nasional secara signifikan.
Efisiensi yang tercipta dari reformasi ini bahkan membuka ruang bagi pembangunan tujuh pabrik pupuk baru dalam lima tahun ke depan. Hal ini diproyeksikan akan memperkuat fondasi kedaulatan pangan nasional secara jangka panjang.
Menko Zulhas optimis bahwa dengan harga pupuk yang lebih terjangkau, biaya produksi petani akan menurun drastis. Hal ini diharapkan mampu memicu peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani di seluruh pelosok negeri.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mengawal implementasi kebijakan ini agar manfaatnya dirasakan langsung di tingkat tapak. Transparansi data menjadi kunci agar distribusi pupuk tetap terjaga tanpa ada praktik penyelewengan.
Keberhasilan ini menjadi bukti sinergi kuat antara Kemenko Pangan, Kementan, dan PIHC dalam merespons kebutuhan petani. Swasembada pangan kini memiliki pijakan yang lebih kokoh melalui ketersediaan sarana produksi yang murah.
Penurunan harga ini resmi menjadi kado awal tahun bagi jutaan petani Indonesia. Pemerintah berharap momentum ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani untuk mengejar target produksi nasional 2026. (*)
