News

Senjata Canggih Buatan Anak Bangsa: Pindad Luncurkan Senjata Pelumpuh Drone ‘Siluman’, ITB Kembangkan Drone Inspeksi Pintar

Bandung (Notif.news) - Industri pertahanan dan teknologi Indonesia terus menunjukkan taringnya. Dalam acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025 yang digelar di Institut Teknologi Bandung (ITB), dua inovasi lokal yang menjanjikan dipamerkan, yakni SPS-1 Anti Drone (Senjata Pelumpuh Senyap) dari Pindad dan drone inspeksi Zeke-04 dari ITB.

SPS-1: Solusi Pelumpuh Drone yang Senyap dan Efektif

Engineer Pindad, Teguh Wardoyo, memperkenalkan SPS-1, sebuah senjata hybrid yang dirancang khusus untuk melumpuhkan drone. Senjata ini telah terbukti efektif dalam operasi kenegaraan, termasuk pengamanan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Keunggulan utamanya adalah kemampuan melumpuhkan drone dari jarak 150 meter dengan nyaris tanpa suara.

Menurut Teguh, SPS-1 bukan sekadar senjata anti-drone biasa. Alat ini juga berfungsi sebagai pelindung personel, meminimalkan risiko yang dihadapi oleh prajurit di lapangan. “Teknologi hybrid ini mengurangi kebutuhan prajurit membawa dua senjata berbeda saat bertugas,” jelasnya.

SPS-1 pertama kali diproduksi pada tahun 2024 dengan jumlah awal delapan unit. Dalam uji coba di Magelang dan Jakarta, senjata ini berhasil menonaktifkan drone yang mengancam. Rencananya, pemerintah akan menambah pengadaan unit SPS-1 pada tahun ini, menunjukkan kepercayaan terhadap produk dalam negeri ini. Pindad mengklaim SPS-1 merupakan jawaban atas kebutuhan militer akan senjata anti-drone yang praktis dan efisien.

Zeke-04: Drone Pintar Penjelajah Ruang Sempit

Di sisi lain, mahasiswa ITB, Brenda Sintia, memamerkan drone inspeksi Zeke-04. Drone ini dirancang khusus untuk memasuki celah-celah kecil dan melakukan inspeksi pada infrastruktur. Tujuannya adalah untuk mendeteksi retak, korosi, deformasi, dan kerusakan lainnya yang sulit dijangkau manusia.

Zeke-04 merupakan iterasi keempat dari drone inspeksi ITB. Model ini dilengkapi dengan teknologi canggih seperti Lidar camera untuk melakukan pemetaan 3D di ruangan sempit. “Versi sebelumnya, Zeke-03, sudah diuji di sela-sela dinding tol, di dalam bunker, dan lain-lain,” kata Brenda.

Kehadiran Zeke-04 diharapkan dapat memangkas waktu, biaya, dan risiko yang biasanya dibutuhkan untuk inspeksi manual. Drone ini juga dilengkapi dengan Ground Control System (GCS) dan Smart System yang terintegrasi dalam satu koper. GCS berfungsi untuk menampilkan parameter terbang, sedangkan Smart System menggunakan teknologi AI untuk mengklasifikasi kerusakan secara real-time.

“Kerusakan yang terdeteksi akan tersimpan pada sistem agar dapat ditinjau lagi nantinya,” tambah Brenda, menjelaskan sistem kerja drone ini.

Baik Teguh dari Pindad maupun Brenda dari ITB sama-sama berharap produk inovatif mereka mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Mereka meyakini bahwa produk lokal ini memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global dan menjawab tantangan teknologi masa kini. (*)