News

Serangan Udara Israel Guncang Iran, 78 Orang Tewas Termasuk Dua Jenderal Militer

Notif.news – Ketegangan Timur Tengah memuncak setelah Israel melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran pada Jumat (13/6/2025). Serangan udara yang diberi nama Rising Lion Operation ini disebut sebagai serangan paling signifikan Israel terhadap Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Target utama serangan adalah fasilitas pengayaan uranium di Natanz, serta sejumlah lokasi militer strategis Iran yang diyakini terkait dengan program rudal balistik negara tersebut. Pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi ini dimaksudkan untuk menghentikan kemajuan pesat Iran dalam pengembangan senjata nuklir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan resminya menyebut, “Kami menyerang langsung jantung program nuklir dan rudal balistik Iran.” Ia juga menegaskan bahwa Israel akan terus bertindak terhadap ancaman eksistensial dari Teheran.

Menurut laporan dari Al Jazeera, hingga Sabtu (14/6/2025) siang WIB, serangan tersebut telah menyebabkan sedikitnya 78 korban jiwa. Media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa di antara korban terdapat dua perwira tinggi militer, yaitu Jenderal Gholamreza Mehrabi dan Jenderal Mehdi Rabbani, yang menjabat sebagai wakil komandan staf umum angkatan bersenjata Iran.

Meski demikian, belum ada informasi resmi mengenai waktu pasti kedua jenderal tersebut gugur dalam serangan.

Iran tak tinggal diam. Dalam waktu kurang dari 24 jam, Teheran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel, termasuk Tel Aviv, Rishon LeZion, dan Ramat Gan. Beberapa rudal Iran berhasil ditembuskan ke wilayah urban, meski sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome, telah diaktifkan secara penuh.

Beberapa rudal Iran diketahui lolos dari intersepsi dan menghantam wilayah pusat kota Tel Aviv. Serangan ini menyebabkan kerusakan bangunan dan gangguan pada infrastruktur sipil. Belum ada informasi resmi mengenai jumlah korban dari pihak Israel.

Warga Israel terlihat mencari perlindungan di tempat-tempat evakuasi darurat di berbagai kota, termasuk Ashkelon. Di Sourasky Medical Center, Tel Aviv, beberapa pasien bahkan dirawat di area parkir terlindung sebagai langkah antisipatif.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa Israel akan menghadapi “hukuman berat” sebagai balasan atas serangan militer tersebut.

Iran kembali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan untuk keperluan sipil, serta menuding Israel menggunakan dalih nuklir untuk melancarkan agresi.

Dalam perkembangan diplomatik, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa serangan tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa restu dari Amerika Serikat. Ia menyebut keterlibatan AS membuat upaya dialog nuklir antara Washington dan Teheran menjadi “tidak berarti.”

“Pihak lain bertindak dengan cara yang membuat dialog tidak berarti,” ujar Baqaei. “Anda tidak dapat mengklaim bernegosiasi, tetapi membiarkan rezim Zionis menargetkan wilayah kami.”

Ketegangan ini memperburuk situasi keamanan regional dan mengancam stabilitas kawasan, terutama setelah serangkaian perundingan nuklir yang sebelumnya menunjukkan tanda-tanda kemajuan. (*)