Makassar (Notif.news) – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama dengan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman, menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) yang diselenggarakan di Rumah Jabatan Gubernur pada Kamis (17/4/2025). Kehadiran kedua pemimpin daerah ini menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap sektor logistik dan perannya dalam pembangunan ekonomi, termasuk dalam mewujudkan ketahanan pangan.
Kegiatan Muswil VII ALFI kali ini mengusung tema sentral mengenai ‘Tantangan Pelaku Logistik di Era Digital untuk Membangun Sinergitas antara Pelaku Usaha dan Pemerintah Mewujudkan Ekosistem Logistik Global’. Tema ini menyoroti pentingnya adaptasi sektor logistik terhadap perkembangan teknologi digital serta perlunya kolaborasi yang kuat antara pelaku usaha dan pemerintah untuk menciptakan sistem logistik yang efisien dan berdaya saing global.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang akrab disapa Appi, menekankan betapa krusialnya peran pemerintah dalam mendukung program swasembada pangan. Menurutnya, ketersediaan logistik yang efisien memiliki korelasi erat dengan kemampuan pemerintah dalam mendistribusikan hasil pertanian dan menjaga stabilitas pasokan pangan bagi masyarakat.
Untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan, Appi menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mendorong peningkatan produktivitas lahan pertanian yang ada. Peningkatan produksi pangan, menurutnya, akan berdampak positif pada pendapatan petani sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat di pasar.
“Swasembada pangan memiliki arti yang sangat penting bagi kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan produksi pangan secara langsung akan meningkatkan pendapatan para petani kita, yang pada gilirannya akan memperkuat daya beli masyarakat secara keseluruhan di pasar,” kata Appi dalam sambutannya.
Lebih lanjut, Appi menyoroti kondisi Kota Makassar saat ini, di mana persoalan ketersediaan logistik menjadi semakin penting seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan aktivitas perdagangan. Namun, ia mengingatkan bahwa ketersediaan logistik ini harus diimbangi dengan daya beli masyarakat yang juga perlu terus ditingkatkan agar swasembada pangan dapat terwujud secara efektif.
“Jika kita melihat kondisi Kota Makassar belakangan ini, tantangan yang kita hadapi bukan hanya sekadar ketersediaan komoditas, tetapi juga bagaimana menjaga dan meningkatkan daya beli masyarakat. Persoalan inilah yang menjadi salah satu tujuan utama dari upaya kita mewujudkan swasembada pangan yang sesungguhnya,” ujarnya.
Kemandirian pangan, menurut Appi, merupakan fondasi yang sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi suatu daerah. Pemerintah Kota Makassar terus berupaya untuk memanfaatkan secara optimal lahan-lahan yang ada demi memenuhi kebutuhan pertanian lokal, meskipun dihadapkan pada tantangan urbanisasi yang terus berkembang.
“Di Kota Makassar ini, kita memiliki kurang lebih 1.600 hektar lahan persawahan. Namun, kita juga dihadapkan pada dinamika urbanisasi yang terus berjalan. Oleh karena itu, kita perlu mencari solusi inovatif untuk tetap menjaga produktivitas pertanian di tengah keterbatasan lahan,” ungkapnya.
Sebagai contoh upaya inovasi tersebut, Pemerintah Kota Makassar terus mendorong dan menguji coba sistem urban farming sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan di wilayah perkotaan. Sistem pertanian perkotaan ini mencakup berbagai metode seperti budidaya tanaman pangan melalui sistem hidroponik dengan memanfaatkan pupuk organik, yang memungkinkan masyarakat dengan lahan terbatas untuk tetap berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan pangan.
“Melalui sistem urban farming, kita berupaya agar masyarakat mampu memenuhi minimal 20% dari kebutuhan pangan sehari-hari mereka, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki lahan pertanian sempit. Inilah salah satu pola swasembada yang sedang kita upayakan,” jelas Appi.
Appi juga menekankan pentingnya membangun sinergitas yang kuat dengan pemerintah daerah kabupaten/kota tetangga untuk saling menopang ketersediaan pangan di Kota Makassar. Kerjasama regional ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan secara keseluruhan di wilayah Sulawesi Selatan.
“Kami sangat mengharapkan agar teman-teman dari daerah kabupaten/kota lain di sekitar Makassar, seperti Gowa, Maros, dan daerah lainnya, dapat bersinergi dengan kita dalam menyediakan pasokan pangan bagi kebutuhan masyarakat Kota Makassar. Kolaborasi antar daerah ini akan sangat membantu dalam mewujudkan ketahanan pangan yang lebih baik,” tutupnya. (*)
